20 Mar 2011

LEGENDA PUTRI SOLO

Menurut legendanya, sejarah pulau Mengare berasal dari cerita seorang Putri Solo
yang akan dikawinkan oleh ayahandanya yang seorang Raja,
dengan bangsawan dari Cina.
Namun sang Putri Solo menolak, dan melarikan diri serta bersembunyi di Bengawan Legowo (yang kini bernama Telaga Pacar, di desa Kramat) dengan membawa harta upeti dari bangsawan Cina tersebut. Sang Raja marah. Ia memerintahkan utusannya untuk mencari sang putri.
Dalam rangka mengejar sang Putri, si utusan ini berubah wujud menjadi seekor ular naga yang besar. Sang ular bergerak meliuk-liuk dan menyebabkan terjadinya sungai-sungai yang
berkelok-kelok di Mengare. Dalam pengejarannya sang ular bertarung dengan utusan dari Sunan Giri,
dan kalahlah sang ular. Ia mati dalam posisi melingkar. Kepala, perut dan ekor ular ini dipercaya, kini menjadi desa-desa yang ada di Mengare, yaitu Desa Watu Agung, desa Tajung Widoro, dan desa Kramat. Kisah ini banyak dipercaya oleh masyarakat Desa Kramat.
Namun, ada versi yang lain mengatakan, bahwa yang disebut sebagai ular besar ini, justru adalah sang putri Solo yang melarikan diri dari bapaknya, dan menjelma berubah dalam wujud ular.
Versi yang lain lagi, yang banyak dipercaya oleh masyarakat Desa Tajung Widoro, diceritakan bahwa ada seorang pangeran dari Solo yang akan dikawinkan dengan seorang putri cantik di daerah sekitar Mengare. Oleh Raja Solo (ayahanda dari Pangeran tersebut), sang pangeran tidak boleh melihat calonnya, namun karena rasa penasaran sang pangeran, akhirnya dengan kesaktiannya ia berubah menyamar menjadi seekor ular dan menuju ke daerah tempat sang putri.Namun di perjalanan sang pangeran menemui ajalnya, serta mati dalam posisi melingkar. Mayat ular jelmaan pangeran inilah yang dipercaya menjadi Pulau Mengare. Legenda ini dipercaya sebagai latar belakang mengapa ada beberapa istilah yang digunakan di Mengare yang sama dengan bahasa Jawa-nya orang Solo, padahal letak Solo sangat jauh dari Mengare, dan bukannya seperti bahasa Jawa Timur-an, seperti penyebutan “gendul” untuk botol, istilah umumnya di Jawa Timur ya “botol”, kata “mathuk” untuk “pulang” bukannya “mulih” atau “wangsul”, kemudian kata “ratan” untuk “jalan”, bukannya “dalan” atau “embong” seperti umumnya bahasa Jawa Timur-an.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar